Cerita Dibalik Pentas Piala Dunia Brazil Tahun 1950

Cerita Dibalik Pentas Piala Dunia Brazil Tahun 1950

Saat ini Admin pialadunia2018official.com akan membahas sedikit sejarah sepak bola di tahun 1950.

Tuan rumah: Brazil.

Juara: Uruguay.

Runner up: Brazil.

Top Skor: Ademir (Brazil) – 9 Gol.

Skor tertinggi: Brazil 7-1 Swedia (putaran final), Uruguay 8-0 Bolivia (Grup 4)Total gol: 88 gol.

Total penonton: 1.045.246

Pentas Piala Dunia 1950 terbilang sangat spesial. Ini adalah turnamen pertama yang digelar setelah meletusnya perang dunia kedua 1945. Brazil dipilih menjadi tuan rumah karena kondisi Eropa yang masih belum siap pascaperang.

Buntut pemilihan Brazil sebagai tuan rumah, beberapa negara Eropa pun menarik diri dari keikutsertaan mereka. Negara tersebut yakni Turki, Skotlandia, Prancis, Irlandia, dan Portugal.

Asia sendiri sebenarnya memiliki wakil, yakni India. Namun negara Asia Selatan tersebut memilih mengundurkan diri karena tak diizinkan FIFA bermain tanpa menggunakan sepatu.

Trophy Piala Dunia

Sejarah Piala Jules Rimet

Untuk kali pertama diperkenalkannya trophy Piala Dunia dengan nama Piala Jules Rimet. Penamaan ini diberikan untuk menandai 25 tahun Jules Rimet menjadi presiden FIFA.
Menariknya, Piala Dunia ini terbilang unik karena tak menggunakan partai pemungkas alias final untuk menentukan siapakah yang berhak menjadi juara.

Uruguay hanya bermain satu kali saja pada babak penyisihan grup dengan mengalahkan Bolivia 8-0. Kemenangan tunggal itu membuat Uruguay langsung bersaing dengan tiga tim juara grup lainnya di putaran final.

Setelah Uruguay bertemu dengan Brazil, Drama pun terjadi. Brazil membuka gol lewat Silbino Cradoso Friaca pada menit ke-47. Namun Uruguay membalikkan keadaan. Mereka menyamakan kedudukan lewat Juan Alberto Schiaffino pada menit ke-66. Dan Alcides Edgardo “Chico” Ghiggia memastikan Uruguay meraih trofi Piala Dunia keduanya lewat gol kemenangan 11 menit menjelang pertandingan usai.

Kegagalan itu benar-benar memukul Selecao. Ofisial Brazil pun sampai lupa memberikan trofi kepada Uruguay. Presiden FIFA Jules Rimet terpaksa turun ke lapangan dan menyerahkan trofi kepada kapten Uruguay sekaligus menutup turnamen itu. Saat itu, trofi tersebut sudah resmi disebut Piala Jules Rimet–untuk menandai 25 tahun jabatan pria asal Prancis itu di FIFA.

Di putaran final ini, Uruguay menyapu bersih tiga kemenangan, termasuk kemenangan terakhir atas tuan rumah Brazil dengan skor 2-1. Sempat tertinggal lewat gol Friaca, Uruguay berhasil membalikkan keadaan berkat gol Juan Schiaffino dan Alcides Ghiggia. Momen ini pun dikenal sebagai Maracanazo.

Bagi publik Uruguay, kemenangan itu terus menjadi kenangan yang tak terlupakan. Sampai sekarang, setiap kali tim nasionalnya menghadapi Brasil, mereka selalu bernyanyi, “Maracana, maracana, maracana.”

Kontestan: Brazil, Yugoslavia, Swiss, Meksiko, Spanyol, Inggris, Chile, Amerika Serikat, Swedia, Italia, Paraguay, Uruguay, Bolivia.

Venue: Maracana, Sete de Setembro, Eucaliptos, Pacaembu, Durival de Brito, Ilha do Retiro.

Swedia Tetap Kuat Meski Tidak Ada Ibrahimovic

Swedia Tetap Kuat Meski Tidak Ada Ibrahimovic

Berita Dunia Hari Ini akan membahas tentang Swedia Tetap Kuat Meski Tidak Ada Ibrahimovic. Ungkapan tersebut datang dari gelandang tim nasional Italia dari Alessandro Florenzi. Menyebutkan juga bahwa Swedia juga memiliki banyak sekali pemain bertalenta bagus. Seperti yang sudah diketahui bahwa penyerang klub Manchester United yang telah berusia 36 tahun ini sudah menyatakan pensiun sejak akhir kompetisi Euro 2016 lalu. Dia saat ini hanya fokus bermain bersama klub yang mendapatkan julukan sebagai setan merah.

Swedia Tetap Kuat Meski Tidak Ada Ibrahimovic

Swedia Tetap Kuat Meski Tidak Ada Ibrahimovic

Alessandro Florenzi sangat mengakui bahwa Swedia sangatlah kuat. Setelah tim nasional Italia dikalahkan tipis pada pertemuan pertama babak play off di Friends Arena (Solna) pada tanggal 11 november 2017. Sedangkan pertemuan kedua yang bermain di Stadio Giuseppe Meazza (Milano) tanggal 14 november 2017, kedua tim hanya bisa bermain imbang tanpa gol.

“Memang ada sedikit ada rasa kehilangan, karena Ibrahimovic sudah tidak tampil lagi. Akan tetapi mereka masih tetap bermain bagus. Oleh karena itu tim nasional lainnya tidak boleh sekalipun memandang remeh skuat ini,” ungkap Alessandro Florenzi saat dilakukan wawancara oleh Situs Bola Resmi seperti pialadunia2018official.com.

“Mereka masih memiliki banyak sekali para pemain bagus pada liga papan atas. Mereka juga yang telah membuat timnas Belanda tidak lolos dari Kualifikasi Piala Dunia 2018.” tambah Florenzi.

Pada tanggal 01 desember 2017 lalu, organisasi sepak bola internasional seperti FIFA telah membagi 32 timnas ke 8 fase grup. Dari hasil pengundian tersebut, Swedia mendapatkan posisi di fase grup D. Nantinya bakal bertempur dengan kubu Jerman, Meksiko, serta Republik Korea.

Demikianlah Berita Bola Terkini ” Swedia Tetap Kuat Meski Tidak Ada Ibrahimovic ” yang Piala Dunia 2018 sampaikan. Semoga Berita Sepak Bola dapat bermanfaat untuk anda.